Sabtu, 16 Juni 2012


 Jenis Tindak Tutur
Wijana (1996:4) menjelaskan bahwa tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur langsung dan tindak tutur tindak langsung, tindak tutur literal dan tidak literal.
1. Tindak tutur langsung dan tak langsung
Secara formal berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interrogative) dan kalimat perintah (imperative). Secara konvensional kalimat berita (deklaratif) digunakan untuk memberitahukan sesuatu (informasi); kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaaan atau permohonan. Apabila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengadakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak memohon dan sebagainya, maka akan terbentuk tindak tutur langsung (direct speech). Sebagai contoh : Yuli merawat ayahnya. Siapa orang itu? Ambilkan buku saya! Ketiga kalimat tersebut merupakan tindak tutur langsung berupa kalimat berita, tanya, dan perintah.
Tindak tutur tak langsung (indirect speech act) ialah tindak tutur untuk memerintah seseorang melakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini dilakukan dengan memanfaatkan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Misalnya seorang ibu menyuruh anaknya mengambil sapu, diungkapkan dengan Upik, sapunya dimana?” Kalimat tersebut selain untuk bertanya sekaligus memerintah anaknya untuk mengambilkan sapu.
2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tak literal
Tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Sedangkan tindak tutur tidak literal (nonliteral speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan kata-kata yang menyusunnya. Sebagai contoh dapat dilihat kalimat berikut.
1. Penyanyi itu suaranya bagus.
2. Suaramu bagus (tapi kamu tidak usah menyanyi)
Kalimat (1) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi suara penyanyi yang dibicarakan, maka kalimat itu merupakan tindak tutur literal, sedangkan kalimat (2) penutur bermaksud mengatakan bahwa suara lawan tuturnya jelek, yaitu dengan mengatakan “Tak usah menyanyi”. Tindak tutur pada kalimat (2) merupakan tindak tutur tak literal.
Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur literal dan tak literal, maka akan tercipta tindak tutur sebagai berikut :
1. Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act), ialah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Maksud memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, dan menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Misalnya : Ambilkan buku itu! Kusuma gadis yang cantik”, Berapa saudaramu, Mad?

2. Tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act) adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur. Misalnya : “Lantainya kotor”. Kalimat itu jika diucapkan seorang ayah kepada anaknya bukan saja menginformasikan, tetapi sekaligus menyuruh untuk membersihkannya.

3. Tindak tutur langsung tidak literal (direct non literal speech) adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud dan tuturan, tetapi kata-kata yang menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya. Misalnya : “Sepedamu bagus, kok”. Penuturnya sebenarnya ingin mengatakan bahwa sepeda lawan tuturnya jelek.


4. Tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect non literal speech act) adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang ingin diutarakan. Untuk menyuruh seorang pembantu menyapu lantai kotor, seorang majikan dapat saja mengutarakannya dengan kalimat “Lantainya bersih sekali, Mbok”.

Rabu, 30 Mei 2012

Tujuan Humas

TUJUAN HUMAS

 

            Dalam realita praktik Public Relations diperusahaan, tujuan Public Relations antara lain menciptakan pemahaman public, membangun citra korporat, membangun opini public yang favourable serta membentuk goodwill dan kerja sama.

Ø   Menciptakan pemahaman ( multual understanding ) antara perusahaan dan publiknya.

Tujuan kegiatan PR pertama kali adalah berupaya menciptakan saling pengertian antara perusahaan dan publiknya. Melalui kegiatan komunikasi diharapkan terjadi kondisi kecukupan informasi ini merupakan dasar mencegah kesalahan persepsi. Kesalahpahaman akibat salah persepsi atau kekurangan informasi merupakan kesalahan mendasar dalam kegiatan komunikasi.

Ø  Membangun citra korporat ( corporat image )

Citra ( image ) merupakan gambaran yang ada dalam benak publik tetntang perusahaan menyangkut pelayanannya, kualitas produk, budaya perusahaan, perilaku perusahaan atau perilaku individu – individu dalam perusahaan dan lainnya. Pada akhirnya persepsi akan mempengaruhi sikap publik,apakah mendukung, netral atau memusuhi.

 

            Benci                                                                           Simpati           

            Prasangka Buruk                                                         Menerima

            Apatis                                                                          Menaruh Perhatian

            Tidak tahu                                                                   Berpengetahuan

 

Gambar : Tujuan PR adalah mengubah sikap publik

 

 

 

Ø  Membentuk opini publik yang favourable.

Sikap publik terhadap perusahaan bila diekspresikan disebut opini publik. Jadi, opini publik ini merupakan ekspresi publik mengenai persepsi dan sikapnya terhadap perusahaan. Ada tiga jenis opini, yaitu opini positif ( mendukung ), negatif

( menentang ) dan netral.

PR dituntut memelihara komunikasi persuasif yang ditujukan untuk :

a.       Menjaga opini yang mendukung.

b.      Menciptakan opini yang masih tersembunyi atau yang belum di ekspresikan.

c.       Menetralkan opini yang negatif.

Ø  Membentuk goodwill dan kerja sama

PR merupakan kegiatan yang bertujuan mengkomunikasikan 5W + 1H, yaitu :

·         Siapa kita ( who )

·         Apa yang kita kerjakan ( what )

·         Mengapa kita mengerjakannya ( why )

·         Kenapa kita mengerjakannya ( when )

·       Dimana publik mendapatkan informasi tentang kita ( where )

·         Bagaimana kita berbeda dengan pesaing ( how )

Tujuan menciptakan kerja sama sama berarti membantu perusahaan & publik untuk saling beradaptasi satu sama lain. PR adalah upaya perusahaan untuk menciptakan kerja sama dengan kelompok- kelompok masyarakat.